Singa-Singa Tauhid Jerman Bela Rasulullah SAW
M Fachry untuk Al-Mustaqbal.net
JERMAN-Ketika banyak dari kaum Muslimin diam seribu bahasa di saat Nabi kaum Muslimin, Muhammad SAW., dihina, diejek, dan ditertawakan, singa-singa tauhid, Muslim Jerman datang untuk membela kehormatan Nabi SAW. Satu hal yang setiap orang harus tahu bahwa Nabi SAW., lebih dicintai ketimbang keluarga sendiri dan diri kita sendiri, dan hal itu adalah bagian dari iman kita, yakni mencintai Nabi SAW., lebih dari diri kita sendiri. Baca entri selengkapnya »
Buletin Sawtul Islam Edisi Perdana Dirilis
Alhamdulillah, Buletin Sawtul Islam Edisi Perdana (Edisi I), Juni 2010 dirilis. Buletin Sawtul Islam, dengan motto Melacak Jejak Salafusshaleh ini mengangkat Kajian Utama : Ikut Mayoritas atau Minoritas? Sementara itu rubrik Qudwah menceritakan pahlawan perang Dzatu r Riqo, sahabat yang mulia, Abbad bin Bisyr, yang mendapat julukan Ahli Ibadah yang Gagah Berani. Buletin ringkas dan mudah dibawa-bawa ini berisi 40 halaman, termasuk rubrik Dunia Islam. Tidak ketinggalan ada pembahasan Syarah Hadits Ka’ab Bin Malik, r.a. oleh Syekh Usamah Bin Ladin, yang terdapat dalam rubrik jihad.
Buletin Sawtul Islam diterbitkan oleh Moslem Intelectual Society (MIS), dan dibandrol dengan harga Rp. 3.000 untuk pulau Jawa, dan luar Jawa plus ongkos kirim. Dengan harga yang sangat murah tersebut dan dengan melihat isi serta kajian-kajian di dalam Buletin Sawtul Islam, maka sudah pasti kaum Muslimin berkewajiban untuk memilikinya. Pesanan bisa menghubungi Sirkulasi dan Iklan di nomer : 081 335 967 582, atau kirim email ke buletin_sawtulislam@yahoo.com
Allahu Akbar!
Hijrah Masa Kini
Hijrah Masa Kini

Hijrah Masa Kini
Kata Hijrah berasal dari istilah hajara, yang berarti berpindah dari satu tempat atau keadaan ke tempat atau keadaan yang lain. Namun, juga banyak lagi pengertian dari istilah hijrah, tetapi kita akan membicarakannya dalam empat hal.
1. Berpindah, atau tidak tinggal di satu tempat
Jika seseorang terkesan dengan apa yang dia dengar atau pelajari (dari ilmu) tetapi tidak melakukannya, dia tidak berhijrah pada yang baru saja dia pelajari. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (QS Al Ma’idah, 5: 68)
Yahudi dan Nasrani telah gagal untuk berhijrah dari situasi kufur mereka ke Tauhid, dan akibatnya Allah SWT menyatakan mereka tidak mempunyai apa-apa sampai mereka menerapkan dan melakukan apa yang telah Dia turunkan.
Sama halnya, Muslim juga tidak mempunyai apapun kecuali mereka menerapkan Al-Qur’an (secara politik) dan Islam menjadi jalan hidup mereka.
Ketika Islam dimulai di Mekkah yang sampai akhirnya menyebar ke Madinah pada saat iteraksi (dakwah) Nabi SAW dan Shahabat-shahabatnya RA. (Islam adalah sebuah Dien yang tidak memaksa untuk tinggal di satu tempat, dan juga Dien perbuatan).
Allah menetapkan bagi penduduk Mekkah untuk menolak dakwah dan memerangi RasulNya SAW. Namun, setelah serangan ini, hijrah telah ditentukan dan mereka selanjutnya diwajibkan untuk berpindah.
Masalah yang ada pada Ummat Islam hari ini adalah mereka tidak melakukan apapun untuk merubah kondisi mereka sekarang, walaupun mereka mempelajari Dien setiap hari. Mereka mengetahui apa yang halal dan haram tetapi mereka tidak ingin bergerak dan melakukan atas apa yang mereka pelajari.
Maka salah satu pengertian hijrah adalah berpindah atau bergerak; Muslim selalu berubah (untuk lebih baik) dan bergerak, serta tidak stagnan.
2. Meninggalkan dosa atau haram
Pengerian ini diambil dari sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Abu Daud. Rasulullah SAW bersabda:
“Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti Muslim dengan lidah dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan semua apa yang Allah telah larang.” (Shahih Al Bukhari, Kitabul Iman, Bab 4 Hadits No 10)
Maka jika seseorang meninggalkan apa yang Allah telah larang, dia adalah seorang Muhajir. Dan Hijrah masih terbuka (walaupun Rasulullah SAW bersabda setelah menaklukan Mekkah bagi orang-orang untuk tinggal dan meninggalkan apa yang Allah SWT telah larang.
3. Beribadah kepada Allah pada saat sulit dan fitan (fitnah)
Rasulullah SAW bersabda:
“Beribadah pada saat masa harj adalah seperti hijrah kepadaku.” (Shahih Muslim, Hadits No 2948)
Pada saat fitan seperti saat ini, ketika orang-orang bercampur baur; wanita tidak menutupi auratnya; kejahatan disiarkan di internet, televisi dan Radio; musik, alkohol dan hukum kufur yang tersebar luas; orang baik dikatakan jahat, dan orang-orang yang rusak (seperti penyanyi, aktor dan selebriti) dipuji dan membuat aturan model: beribadah kepada Allah pada saat ini seperti hijrah kepada Nabi Muhammad SAW.
Pada masa ketika begitu sedikit orang yang jujur; hati orang-orang beriman akan sakit karena dia akan melihat kejahatan dan tidak bisa merubahnya; Muslim yang berbicara akan dibunuh atau ditangkap, dan kesucian mereka yang tetap diam akan terhina; orang-orang akan menangkap yang membuat website, atau mereka akan ditangkap karena membawa uang di kantong mereka atau memelihara jenggot; Muslim yang terpercaya dilabeli sebagai fanatik dan teroris; dan Muslim yang berangkat dari satu negeri ke negeri yang lain dicurigai sebagai teroris: tidak diragukan lagi, ini adalah masa fitnah besar.
4. Bergerak atau menjauhi orang tertentu
Aturan yang mendasar berkaitan dengan Kufar adalah sebuah kewajiban untuk menjauh dari mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah.
Allah SWT memerintahkan kita untuk membenci mereka dan menjauh dari mereka, tetapi pada saat yang sama memelihara hubungan dengan kita untuk transaksi dan interaksi dengan mereka (mengajak mereka pada Islam). Allah SWT berfirman:
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al Muzammil, 73: 10)
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya[1310] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku.” (QS Az Zumar, 39, 17)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An Nahl, 16: 36)
Ayat-ayat ini mengkonfirmasi aturan yang sebenarnya berkaitan dengan Kuffar dan Tawaghit; itulah untuk mengatakan, mereka menjadi mengelak. Ini lebih jauh di jelaskan dengan sikap Nabi Ibrahim AS kepada kaumnya dan bapaknya (yang telah kafir). Allah SWT berfirman:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah.” (QS Az Zukruf, 43: 26)
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS Al Mumtahanah, 60: 4)
“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS Maryam, 19: 48)
Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, bersumber dari Samurah bin Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang berkumpul dengan seorang Musyrik dan bertempat tinggal dengannya, maka dia seperti mereka (musyrik).” (Sunan Abu Daud, kitabul jihad no. 2787)
Setelah seseorang meninggalkan kufur dan syirik kemudian memeluk Islam, mereka harus menghindari orang-orang kafir (dan apa yang mereka sembah selain Allah) dan hidup diantara Muslim, atau tidak ada dari perbuatan mereka yang akan diterima oleh Allah. Satu-satunya pengecualian untuk aturan ini adalah istri seseorang dari Ahli Kitab atau orang tua seseorang yang Kafir – memberikan mereka tidak menunjukkan kebencian kepada Islam.
Diriwayatkan dalam Sunan An Nasaa’i bahwa Bahz bin Hakim bin Mu’awiyah RA berkata bahwa kakeknya (Mu’awiyah) meriwayatkan Nabi bersabda:
“Allah tidak menerima semua perbuatan dari seorang Musyrik setelah dia memeluk Islam kecuali dia menjauhi Musyrikin.”( Fathul Bari, Kitabul Jihad)
Salah satu bentuk hijrah adalah berpindah dari daerah kufur (darul kufur) ke daerah Islam (darul Islam). Namun, masalahnya belum ada Darul Islam saat ini bagi semua Muslim yang ingin berhijrah. Saat ini kita mempunyai darul kufur Asiyyah (negeri yang telah ditaklukan oleh Muslim), seperti Eropa; Darul Riddah (Darul murtad, dimana Muslim tidak menerapkan Syari’ah); dan Darul Kufur Taari’ah (negeri Muslim dalam pendudukan), seperti Israel, Spanyol, Iraq dan Afghanistan. Maka dimana kita bisa berhijrah bila semua negeri sama?
Namun, jika sebuah negara Islam diterapkan, Allah akan menghukum mereka yang tidak meninggalkan kuffar dan hijrah kecuali mereka mempunyai alasan yang syar’i. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS An Nisaa, 4: 97)
Sebagaimana mereka tidak bisa berhijrah ke Darul Islam karena itu tidak ada, mereka akan melakukan hijrah ke tempat lain dimana mereka secara umum bisa memenuhi kewajiban mereka. Jika seseorang tidak bisa menyerukan kebaikan dan mencegah kemunkaran, mereka harus berhijrah. Jika ketentuan hanya membolehkan seseorang untuk makan, minum dan berjalan, tetapi tidak memberikan dakwah, menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka mereka harus hijrah ke sebuah tempat dimana mereka bisa memenuhi kewajiban mereka – ini adalah apa yang Shahabat lakukan ketika Hijrah ke Abyssinia.
Buah dari Hijrah (ke Abyssinia) adalah raja kedua memeluk Islam. Telah diriwayatkan oleh Ummu Salamah RAH bahwa ketika Mekkah menjadi begitu sulit bagi Shahabat, Rasulullah SAW menyarankan bagi mereka untuk pergi ke negeri Habashah (Abyssinia) dimana disana ada seorang raja yang tidak zalim. Nabi SAW memerintahkan mereka untuk tinggal disana “sampai Allah memberikan jalan keluar untukmu”. Pada waktu itu, Raja (tidak seperti penguasa saat ini) tidak melarang mereka untuk berdakwah dan mencegah kemungkaran. Shahabat yang dijelaskan suatu hari bahwa mereka memerintahkan untuk beribadah kepada Allah dan menyempaikan kebenaran dimana saja mereka berada.
Namun, hijrah bukan berarti memerlukan berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan hijrah dari satu kota ke kota lain, atau satu desa ke desa lain - dengan tujuan untuk menjauhi orang-orang yang berbuat dosa.
Karena bagi mereka yang lemah, wanita, anak-anak atau mereka yang tidak mempunyai uang atau dokumen perjalanan (seperti passport), mereka harus tinggal sebisa mereka untuk berdakwah dan menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, walaupun dengan cara do’a.
Allah SWT berfirman:
“kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS An Nisaa’, 4: 98-99)
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Ibnu Abbas RA berkata:
“Aku dan ibuku adalah dari Mustad’afin (orang yang lemah). Aku berada diantara anak-anak dan ibuku berada diantara nisaa’ (wanita).”
Di sisi lain, seseorang mungkin menemukannya perlu untuk hidup diantara Kuffar dengan tujuan untuk mengajak mereka pada Islam. Ini adalah situasi yang ditemukan Nabi SAW di Mekkah. Beliau hidup diantara mereka tetapi berinteraksi dan mengajak mereka pada Islam. Pada saat yang sama, beliau akan melakukan hijrah dari mereka bilamana mereka mengejek atau menghina Kitab Allah. Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS An Nisaa’, 4: 140)
Maka ketika Musyrikun mengabaikan atau mengejek ayat Allah, Nabi SAW akan menjauhi mereka.
Sama halnya dengan Ashabul Kahfi menjauhi kaum mereka dan melarikan diri ke gua ketika mereka diminta untuk bergabung dan ambil bagian dalam perayaan pagan mereka.
Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Khabbaab Bin Al Arat RA berkata:
“Aku dulu hidup di Mekkah dan bekerja untuk Al Aas bin Waa’il. Suatu hari, ketika aku mendatanginya dan mengambil upahku, dia berkata kepadaku, ‘Aku tidak akan memberikan upahmu kecuali jika kamu mengingkari Muhammad.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akn mengingkari Muhammad SAW sampai aku mati dan bahkan bangkit kembali. Dan jika aku bangkit kembali, aku akan mempunyai (cukup) kekayaan dan anak.”
Selanjutnya, seorang beriman mungkin menemukan dirinya pada sebuah situasi dimana Kuffar menginginkanya untuk bergabung, meninggalkan Diennya, mencela Syari’ah atau meninggalkan negeri mereka, dan jika dia tidak melakukan yang demikian mereka tidak akan bekerja padanya, atau mereka akan mencabut kepentingannya (kesejahteraan). Pada situasi seperti ini, dia harus meninggalkan dan tidak berkompromi atas Diennya.
Memboikot Muslim
Hukum asal, hubungan antara Muslim dan non-Muslim adalah bukan persaudaraan; kami tidak bercampur dengan mereka, menikah dari mereka atau berdagang dengan mereka – kecuali ada kebolehan. Namun, ini berlawanan dengan sesama Muslim, dimana hukum asalnya adalah bersaudara. Tetapi dari waktu ke waktu, ada kemungkinan menjadi boleh untuk menjauhi seorang Muslim, karena ada dua alasan di bawah ini:
1. Karena urusan dunia
2. Karena Dien
Berkaitan dengan urusan dunia, seseorang bisa memboikot Muslim jika dia mempunyai sebuah perselisihan (tentang makanan, pakaian atau uang), tetapi boikot ini tidak bisa lebih dari tiga hari. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak mungkin bagi seorang Muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari 3 malam, berpaling satu sama lain dimana saja mereka bertemu. Yang lebih baik adalah salah satu yang berinisiatif untuk Salaam.” (Shahih Muslim Hadits no 2560)
Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Pintu surga terbuka setiap hari senin dan kamis. Allah akan mengampuni setiap hamba yang tidak melakukan syirik, kecuali seseorang setelah berselisih dengan saudaranya, menjaga dendam. Itu akan menjadi perkataan baginya (tiga kali): ‘lihatlah kedua orang itu, (jangan buka pintu jannah) sampai mereka damai.’” (Shahih muslim Hadits No. 2565)
Berkaitan denga dien, sebagai seorang Muslim bisa diboikot lebih dari 3 hari, atau mungkin kurang, tergantung kondisinya.
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah SAW memboikot 3 orang (termasuk Ka’ab Bin Malik) untuk lima puluh malam karena mereka tidak merespon seruan jihad untuk perang Tabuk. Rasulullah SAW juga menginstruksikan Shahabatnya untuk melakukan hal yang sama dan tidak ada seorangpun yang berbicara dengan mereka selama periode ini, termasuk istri-istri mereka. Ini berdasarkan wahyu (Allah mengatakan kepada RasulNya untuk memboikot mereka).
Umar Bin Al Khattab juga meminta Muslim untuk memboikot orang yang disebut Sabigh At Tamimi, yang secara rutin salah menanggapi ayat-ayat mutasyabihat dari Kitab Allah. Tidak seorangpun berbicara kepadanya selama hampir satu tahun, sampai dia berubah dan bertobat.
Maka ada insiden di masa lalu ketika Muslim diboikot lebih dari 3 hari, sebagai sebuah bentuk hukuman; tetapi ini hanya terjadi pada individu yang melakukan dosa besar atau bid’ah, atau mempunyai tanda-tanda nifaq.
Jika seseorang melakukan dosa besar dan kemudian bertobat, kita tidak bisa menolak untuk memaafkannya, dengan kata lain kita akan menjatuhkan diri kita ke dalam kemunafikan.
Terakhir, tujuan utama hijrah adalah meninggalkan tempat ketidaktaatan menuju tempat ketaatan, dimana seseorang bisa berlaku atau menjalankan diennya.
Wallahu’alam bis showab!
Seruan Jihad Bebaskan Palestina
Seruan Jihad BebaskanPalestina
Seruan Dukungan Jihad Melawan Israel-Mempertahankan Kesucian Masjid Al-Aqsa

Seruan Jihad Untuk Membebaskan Palestina
Kembali, anak cucu kera dan babi, zionis yahudi Israel menunjukkan kebinatangannya. Sungguh biadab, sekitar 300 Muslim tewas dirudal dan 600 lainnya luka-luka pada hari Minggu sore, 28 Desember 2008. Sementara itu, jet-jet tempur Israel juga terus meraung-raung mencari sasaran anak-anak kaum Muslimin. Sebagian besar umat Islam sudah mendidih darahnya melihat kondisi ini dan mulai mengumpulkan solidaritas untuk membantu secara kongkrit saudara-saudara kita di Palestina. Bantuan apakah yang paling dibutuhkan mereka ?
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah-menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk mendukung jihad melawan musuh Allah swt. dan Rasul-Nya, Muhammad saw, Israel-Yahudi, laknatullah alaihi. dengan segenap kemampuan yang dimiliki umat.
Al Muhajirun- Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah-menyeru kepada seluruh kaum muslimin baik individu maupun jama’ah dan organisasi untuk menunjukkan dukungan mereka secara lisan, fisik dan finansial (harta benda) kepada para Mujahid, orang yang berjuang melawan negara fasis, agresor, yang benar-benar ada, yakni Israel; sehingga bisa dihancurkan. Dengan demikian tanah Palestina, dataran tinggi Golan dan jalur Gaza dapat dibebaskan dan akan menjadi milik kaum muslimin untuk menegakkan syariah Islam.
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah-menyeru kepada umat Rasulullah saw untuk mengingat bahwa Masjid Al-Aqsa berkaitan erat dengan aqidah kita. Masjid tersebut merupakan tempat dimana Allah swt memberangkatkan Muhammad saw. pada suatu malam di Mekkah dan dimana beliau saw dinaikkan ke surga dan tempat Nabi saw. memimpin semua Nabi termasuk Isa, Musa, dan Ibrahim a.s. dalam aktivitas sholat.
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah- menyeru kepada seluruh umat muslim untuk mengekspose konspirasi Yahudi dan Nasrani dalam memecah belah umat muslim dan mencuri sumber kekayaan mereka. Kami menyarankan Anda untuk mengekspose mereka. Sesungguhnya, realita motivasi dari para penjajah (yang menduduki Palestina) tidak untuk menyenangkan Tuhan mereka akan tetapi untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dengan harapan menemukan harta benda Nabi Ibrahim a.s. yang telah hilang.
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah-menyeru kepada semua Imam masjid dan komunitas para pemimpin untuk memotivasi umat muslim dimanapun berada untuk menekankan atas saudara mereka supaya melawan dan mengerjakan tugas mereka mempertahankan kesucian Allah swt, Rasulnya Muhammad saw. dan umat muslim di masa ini. Sesungguhnya, Allah akan menghisab masing-masing diantara kita untuk pertanggungjawabannya.
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah- menyeru kepada para mujahidin untuk tidak putus asa dalam meneruskan aktivitas mulia mereka untuk menyingkirkan kanker Israel dari tubuh umat Nabi Muhammad saw. Do’a seluruh kaum muslimin bersamamu. Sesungguhnya kamu berada dalam salah satu garis terdepan perjuangan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah), antara Islam dan kufur (non muslim), antara muslim dan kafir.
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah- ingin mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin bahwa Allah telah menjadikan dukungan terhadap jihad merupakan kewajiban atas muslim dimanapun mereka berada. Oleh karena itu, kami mengundang umat muslim untuk melaksanakan pemenuhan kewajiban mereka terhadap Palestina dengan menggalang kekuatan yang mereka miliki untuk melawan kekejaman yang dilakukan oleh Negara tidak sah Israel, dengan menyerukan jihad sebagai solusi atas Palestina, dengan meletakkan ketakutan ke dalam hati musuh dan meletakkan ketabahan serta kekuatan ke dalam hati para Mujahid.
Al Muhajirun-Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah- menyeru kepada semua umat muslim untuk tetap kuat di masa ini ketika orang-orang kafir berupaya menghentikan semua bentuk jihad dan melakukan aktivitas perlawanan terhadap jihad dengan memberi nama yang buruk terhadap aktivitas jihad serta mengatakan sebagai aktivitas yang tidak sah dipandang dari segi hukum (kafir), mereka memerangi aktifitas jihad dengan julukan “memerangi terorisme”. Kewajiban melaksanakan jihad adalah fardhu ‘ain (tugas individu) untuk saat ini yang menjadi tanggung jawab setiap muslim, sesuai dengan kemampuan mereka, dimanapun mereka berada. Oleh karena itu, mari kita respon seruan dari Allah swt dan Rasul-Nya Muhammad saw.
Semoga Allah swt ridlo atas apa yang kami serukan kepadamu untuk bekerja sama memenuhi kewajiban ini. Allahu Akbar…!
Senin, 1 Muharram 1430H/29 Desember 2008
Al-Muhajirun
Pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah
HARAM MERAYAKAN NATAL & TAHUN BARU
HARAM MERAYAKAN NATAL &TAHUN BARU

Haram Merayakan Natal & Tahun Baru
Allah swt. telah memuliaakan umat ini dengan Islam, dan memerintahkan-nya untuk mengimplementasikan-nya. Dia telah menurunkan Islam sebagai cara hidup yang unik. Sebuah pola yang berbeda dalam masalah konsepnya dan peraturan-peraturannya, sebagai sesuatu yang sempurna dan sistem menyeluruh yang mengatur semua urusan kehidupan. Allah swt. berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”
(QS Ali Imran 3 : 110)
Namun, sejak Islam diabaikan dari kehidupan sehari-hari sebagai sebuah sistem peraturan, umat telah melaksanakan hal-hal yang buruk dan semakin bertambah buruk; aturan orang-orang kafir telah diimplementasikan atas umat ini dan konsep-konsep kufur telah mendominasi mereka. Invasi barat dengan budaya busuk dan hina dina itu telah berhasil merusak dien Islam, moral umat dan menjadikannya tak bernilai. Slogan barat telah di adopsi oleh kaum Muslimin melalui perayaan-perayaan dan festival-festival barat. Budaya rusak barat ini telah dibantu oleh para penguasa yang mengabdikan dirinya untuk memisahkan Islam dari kehidupan dan melakukan perang pemikiran dan menanamkan konsep-konsep buruknya, kemudian memaksa umat untuk masuk pada apa yang barat selalu inginkan, yakni menjadi individu yang sekuler.
Salah satu dari banyak konsep budaya yang dipaksakan oleh barat atas kaum Muslimin adalah perayaan natal dan tahun baru. Kita memohon pada Allah swt. agar tidak membiarkan diri kita melihat suatu hari dimana kaum Muslimin merayakan hari jadi orang-orang Yahudi (hari raya Yahudi) dan juga melakukan perayaan Natal.
Ini sungguh menyedihkan dan ironis sekali untuk menyaksikan dengan mata sendiri kejadian dan mendengar berita tentang pembunuhan masal, pengusiran dan penghinaan terhadap kaum Muslimin di tangan barat pada hari Natal, musuh-musuh Islam di seluruh penjuru dunia, sambil sebagian kaum Muslimin di negeri ini diundang oleh orang-orang Amerika dan orang Kristen lain-nya masuk ke dalam rumah mereka untuk merayakan natal dan tahun baru. Tentu saja, ini seharusnya tidak terjadi sebagai sebuah goncangan kepada kita sejak umat ini kehilangan pelindungnya yang menjalankan urusannya dengan Islam, melindunginya dari serangan konsep-konsep kufur dan menjalankan peraturan-peraturang diennya, memeliharanya sebagai sebuah perintah Allah swt., sebuah umat yang khas.
Wahai kaum Muslimin! Itu (Perayaan atau mengucapkan natal & tahun baru) adalah sesuatu yang dilarang oleh syariah untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dan untuk mencontoh mereka dalam masalah dien (agama). Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya pada melalui Abu Sa’id Al Khudri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“kamu akan mengikuti cara-cara dari orang-orang yang sebelum kamu sehasta demi sehasta dan selangkah demi selangkah, walau pun mereka memasuki lubang biawak kamu akan mengikuti mereka”. Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksud (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?” beliau menjawab: “Siapa lagi?”
Dalam Hadits ini Rasulullah mengejek orang-orang yang meniru orang-orang kafir, dan itu adalah sebuah hujjah (dalil/alasan syar’i) bahwa itu (merayakan natal dan tahun baru) adalah haram (tertolak), baik untuk mengikuti mereka dalam perayaan natal dan seremonial-seremonial lainnya mereka. Itu juga jelas bahwa perayaan seremonial orang-orang kafir dan perayaan ulang tahun mereka berarti meniru mereka dan Islam telah menolaknya. Rasulullah saw. telah memberi peringatan kepada kita untuk menolaknya. At-Tirmidzi meriwayatkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“ Bukan seseorang dari kita (kaum muslimin) yang meniru suatu kaum, jangan meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani.”
At-Tabrani meriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Hudaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Siapa yang mengikuti suatu kaum akan menjadi salah satu dari mereka.”
Itu juga merupakan bagian dari teks syariah bahwa itu adalah tertolak bagi seorang Muslim yang telah mempunyai hari raya nya sendiri yaitu I’edul Fitri dan I’dul Adha. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam ‘Sunan’-nya dari Anas Bin Malik yang berkata :
“ Rasulullah saw. datang ke Madinah pada saat orang-orang Madinah mempunyai dua hari pada masa jahiliah (sebelum Islam) yang mereka rayakan, maka beliau saw. berkata: “Aku datang kepadamu pada saat kamu mempunyai 2 hari dari masa jahiliah yang kamu rayakan, dan Allah swt. telah menggantikannya 2 hari ini dengan dua hari yang lebih baik: hari raya Kurban dan hari Fitri.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Uqbah Ibnu Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Dan kami mempunyai hari Fitri, hari Kurban dan hari Tasyriq adalah hari besar kami orang-orang Muslim.”
Teks-teks ini disajikan sebagi hujjah yang jelas bahwa itu tertolak bagi kaum Muslimin untuk mempunyai perayaan selain dari pada apa yang telah Allah swt. putuskan. Mereka (kaum muslimin) selanjutnya tertolak untuk ambil bagian dalam perayaan orang-orang kafir, dari perayaan seperti upacara mereka, adalah sesuatu yang tertolak seperti menghadiri perayaan mereka, walau pun mereka mengundang. Seperti cara upacara akan menghantar kepada kerusakan dan pemutusan mereka akan menjadi sebuah kesempatan bagi setiap orang-orang fasiq untuk melakukan perbuatan yang berdosa, seperti mengkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang. Media masa yang ada cenderung pada peristiwa ini untuk menayangkan program-program yang mempunyai selera yang buruk dan semua jenis ketidaksopanan dan kerusakan. Mereka mencemari pemikiran orang-orang dan mengikis segala jenis moral yang baik, martabat, dan kesucian mereka.
Wahai kaum Muslimin! Umat akan terus-menerus tertekan di bawah konsep orang-orang kafir dan akan terus terdominasi. Mental kaum Muslimin akan terus tebentuk sesuai dengan sudut pandang orang-orang barat, kecuali kita mulai membuang semua pemahaman barat yang ada pada diri kita dan berjuang untuk menegakkan Khilafah Rasyidah, yang akan mengimplementasikan kitab Allah swt. dan sunnah Rasul-Nya saw., dan akan menumbangkan ketidakadilan, penguasa tiran dan kerusakan yang tampak atas kaum Muslimin, yang kemudian sebagai hasilnya orang-orang kafir akan kehilangan kekuatan dan identitas mereka.
Selanjutnya, itu adalah untuk khilafah bahwa kita menyeru kepada mu (kaum muslimin) untuk memperjuangkannya, wahai kaum Muslimin! Rasulullah saw. bersabda:
“Iman itu adalah pelindung dimana orang-orang berperang dan terlindung dengannya.” (Shahih Bukhari)
Wallahu’alam bis showab!
Ikut Mayoritas atau Minoritas ?
Ikut Mayoritas atau Minoritas ?

Ikur Mayoritas atau Minoritas?
Pada saat ini, banyak kebenaran, kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan kaum Muslimin dilabeli sebagai “minoritas” atau tepatnya “minoritas ekstrim”. Sebagian orang telah benar-benar menjatuhkan dirinya pada suatu tingkatan dengan memasukkan haraam ke dalam halal berdasarkan apa yang mayoritas orang-orang katakan. Apakah ini tertolak dalam Islam? Haruskah kita mengikuti apa yang mayoritas orang-orang percayai dan ikuti, atau kita harus tetap berdiri di atas haq (kebenaran), meskipun tidak banyak yang mengikutinya?
Sejak kita menjadi seorang Muslim (orang-orang yang patuh), menjadi penting (dan faktanya adalah sebuah kewajiban) bagi kita untuk merujuk kembali kepada Al-Qur’aan dan As-Sunnah dan lihatlah apa yang tuhan kita telah katakan tentang masalah ini. Allah (swt) berfirman dalam kitabnya:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”
(QS Al An’am 6 : 116)
Ayat ini sangat jelas dan tegas bagi kita untuk memperhatikannya. Allah (swt) menginformasikan kepada kita bahwa mayoritas dari orang-orang tidak bisa diikuti tetapi itu hanyalah dugaan dan mereka tidak lain hanyalah pembohong. Ayat ini membasmi segala gagasan atau konsep yang melibatkan kebolehan, kepuasan, kesenangan orang-orang mayoritas di muka bumi. Selanjutnya, orang-orang yang mengatakan bahwa kami (orang-orang Islam) tidak menghadirkan mayoritas dari orang-orang dan bahwa kami adalah minoritas, kita harus berani untuk mengatakan kepada mereka, tentu saja! mayoritas adalah sesat dan mayoritas akan masuk ke dalam neraka.
Kebenaran tidak bersama mayoritas dan ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk diketahui orang-orang yang berada dalam petunjuk Allah (swt). Kita mengetahui kebenaran dari nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah -teks wahyu) dan tidak oleh perkataan mayoritas. Faktanya, syaitan telah berjanji kepada Allah (swt) bahwa dia akan menyesatkan mayoitas dari hamba-hambaNya dan hanya minoritas dari orang-orang beriman yang ikhlas akan bisa dan mampu melawan bisikkan syaitan yang telah dia berikan.
Allah (swt) berfirman dalam Al Qur’an:
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Shaad 38 : 82-83)
Selanjutnya apa yang oleh mayoritas katakan, lakukan atau percayai seharusnya tidak akan menjadi standar bagi seorang Muslim untuk menghakimi apa yang benar dan apa yang salah, yang jahat dan yang baik. Kita hanya mendasrkan diri kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang sesuai dengan pemahaman dari Shahabah – inilah apa yang disebut kita mengikuti dengan merujuk dari bagaimana orang-orang yang telah memegangnya. Telah di riwayatkan secara shahih bahwa Abdullah bin Mas’ud (ra) berkata:
كن مع الجماعة ولو كنت وحدك
“Tetaplah bersama Jama’ah (kebenaran) meskipun jika kamu seorang diri.”
Faktanya pada saat dimana Ahmad bin Hambal (rh), dia adalah satu-satunya orang yang mempunyai keberanian berdiri dengan kebenaran dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah (kalamullah) dan bukan makhlukNya (swt), disamping itu fakta bahwa mayoritas orang-orang berkata sebaliknya dan tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan secara terbuka seperti apa yang dia lakukan.
Lebih lanjut, Rasulullah (saw) bersabda:
…وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قالو: ومن يا رسول اللّه؟ قال: من كان على ما أنا عليه وأصحابي
“…dan umat ini akan terpecah ke dalam 73 golongan, semua dari mereka akan masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan (golongan yang selamat). “Mereka (para sahabat) bertanya, ‘siapa mereka (golongan yang selamat) Yaa Rasulullah?’ belaiu menjawab, “mereka adalah orang yang mengikuti beliau dan para Shahabat.” (Sunan At Tirmidzi)
Selanjutnya Rasullullah (saw) menginformasikan kepada kita bahwa ummat ini akan terpecah ke dalam banyak golongan. Mayoritas dari mereka akan masuk ke dalam neraka, dan hanya minoritas yang akan selamat – dan mereka adalah orang-orang yang dengan teguh mengikuti tiada lain hanya Rasulullah (saw) dan para shahabat; bukan mengikuti dan meneladani kebiasaan dari orang-orang atau perkataan dari mayoritas. Lebih lanjut, hadits lain dalam shahih Bukhari juga membuktikan fakta ini bahwa mayoritas orang-orang akan masuk ke dalam neraka.
Rasulullah (saw) bersabda:
“Allah akan berkata (pada hari kebangkitan), ‘wahai Adam.’ Adam (as) menjawab, ‘inilah aku, dengan penuh ketaatan dan semua kebaikan ada pada tanganMu.’ Allah akan berkata, ‘bawalah orang-orang berada di neraka.’ Adam berkata, ‘yaa Allah! Berapa banyak orang-orang yang berada di neraka?’ Allah akan menjawab, ‘setiap dari seribu, ambillah ambilah sembilan ratus sembilan puluh sembilan.’” (Shahih Bukhari, Kitab kisah para Nabi)
Selanjutnya, sebagaimana kita telah sebutkan sebelumnya, opini ini telah sangat jelas kepada mereka orang-orang yang telah diberi petunjuk kepada tuhannya. Dan orang-orang yang berkata bahwa kami tidak bersama dengan mayoritas; kami yakin bahwa mereka berada dalam kebenaran yang mutlak! Kebanyakan orang-orang tidak diberi petunjuk dan mayoritas akan masuk neraka – kami tidak akan pernah berada dengan orang-orang yang akan masuk ke dalam neraka.
Bukanlah metode Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (golongan yang selamat) untuk menghakimi apa yang benar dan apa yang salah. Apakah minoritas ataupun mayoritas setuju dengan kita, kita tidak peduli – jadi sepanjang kita mengikuti teks-teks wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunah berdasarkan pemahaman Shahabat). Mereka adalah orang-orang yang mencari ke-ridho-an dan kepuasan Allah SWT. bukan orang-orang yang mencari keridhoan manusia, karena kalau mencari keridhoan manusia pasti akan terbakar di api neraka yang Allah (swt) telah sediakan, dan Allah (swt) akan membuat mereka menjadi dibenci oleh semua orang.
Rasulullah (saw) bersabda:
“siapa saja yang mencari ke-ridho-an Allah dengan mengabaikan kebanyakan orang, akan mendapatkan ke-ridho-an Allah, dan Allah akan membuat orang-orang ridho kepadanya. Dan siapa saja yang mencari ke-ridho-an kebanyakan orang dengan mengabaikan kemurkaan Allah, tidak akan mendapatkan ke-ridho-an Allah, dan Allah akan memnyebabkan orang-orang tidak ridho dengannya.” (Musnad Imam Ahmad)
Rasulullah (saw) dan para Shahabatnya adalah orang-orang yang minoritas di Mekkah, namun mereka tidak pernah kompromi dengan pekerjaan sulitnya dan terus berusaha, mereka telah sukses menghancurkan sistem kufur dari Qurays dan Allah (swt) memberikan kepada mereka kekuasaan di muka bumi. Allah (swt) berfirman:
…”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar (orang-orang yang tetap teguh dan tanpa kompromi).” (QS Al Baqarah 2 : 249)
Allahu Akbar……!!!
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!